Gugusan Kepulauan Nusa Tenggara tidak hanya terkenal dengan pemandangan alamnya yang memanjakan mata. Namun lebih dari itu, Nusa Tenggara juga menyimpan surga mancing yang belum terjamah, tempat dimana ikan-ikan pemangsa bersemayam. Maka tak heran jika kegiatan memancing sudah menjadi warisan aktifitas turun- menurun di tanah Sumbawa.

Pukul 16:00 WITA pesawat perintis dengan ukuran sedang dari Lombok baru saja mendarat di Bandara Sultan M. Kaharuddin. Cuaca cerah berawan menyambut kedatangan ketiga pemancing dari Jakarta, Slamet, Ade serta Kang Ito. Sementara di pintu keluar bandara sudah menunggu Yuri untuk menjemput ketiga pemancing tersebut.

Balas dendam di Sekonci
Dua kapal jukung dengan katir yang masing-masing dioperasikan oleh Pak Sunda dan Pake Dema membawa rombongan pemancing menuju tepian pantai Desa Meno hingga masuk ke muara. Kondisi cuaca yang bertiup kencang dan membuat alunan arus ombak bertambah abesar menyambut pada pagi itu. Rencananya, berbagai metode mancing akan dicoba satu persatu pada trip mancing kali ini diawali dengan casting di hari pertama.

Pukul 7:30 WITA kedua jukung mulai memasuki perairan muara. Beberapa kali para pemancing melakukan cast ke spot. Namun rupanya hasil tidak sesuai dengan harapan akibat cuaca buruk yang masih bertahan. Usaha kami hanya mendapatkan hasil spesies tepian pantai seperti Lencam, Kerong-kerong serta Cendro. Sebelum memasuki tengah hari, tim memutuskan untuk kembali sebentar ke darat guna melaksanakan solat Jumat.

Usai beribadah, tim melanjutkan kembali kegiatan mancing ke lokasi muara berbeda. Memasuki siang hari cuaca justru bertambah ekstrim karena angin bertambah kencang. Situasi ini jelas mempengaruhi keberadaan ikan yang kurang memiliki selera makan saat cuaca sedang buruk. Hingga pada akhirnya tim memutuskan untuk kembali ke darat walaupun harus berupaya keras melawan arus ombak dan angin yang semakin keras. Setibanya di darat tim langsung menuju hotel penginapan dan istirahat untuk trip esok hari.

Sabtu pagi menjadi waktu untuk ‘balas dendam’.Metode mancing selanjutnya yaitu jigging dan dasaran akan diterapkan di spot baru yang berjarak sekitar 6 jam dari Dermaga Pantai Jempol. Dermaga Pantai Jempol terletak 5 km dari penginapan, lokasi dimana Pak Samsul selaku kapten kapal yang akan digunakan bertempat tinggal.

Spot Sekonci dipilih sebagai lokasi yang akan didatangi oleh para pemancing. Kali ini Mas Tole kembali ditunjuk sebagai pemandu mancing di spot-spot sekitar Sumbawa. Berlayar menuju Sekonci dikelilingi pemandangan laut nan indah ala Sumbawa merupakan pengalaman yang menyenangkan. Di sela perjalanan menuju spot mancing, kami mampir sebentar di pinggir pantai Pasir Putih untuk tegur sapa ke warga sekitar sampai membeli beberapa kilogram Teri guna perbekalan di tengah laut. Tidak menghabiskan banyak waktu tim pun segera menuju spot pertama.

Wilayah laut dengan kedalaman 70-120 dipilih untuk mencoba teknik jigging. Yuri mengawali strike pada trip kali ini, metal jig 80 gram miliknya mendapatkan sambaran dari dasar air. Rupanya seekor ikan Karas berukuran sekitar 3 Kg memberikan perlawanan hingga Yori berhasil menaikkan ikan tersebut ke atas kapal.

Permulaan yang baik dari Yori. Tak berselang lama Slamet juga menyusul strike usai metal jig 180 gram miliknya disambar Kerapu Lodi 3 Kg. Strike ikan Kurisi Cablak oleh para pemancing dengan ukuran sedang juga terus berlangsung walaupun intensitas strike belum terlalu ramai. Disaat itu pula Yuri menurunkan metal jig ukuran 80 gram dipadu ril Phantom di spot yang sama. Beberapa kali melakukan gerakan jigging, Yuri pun strike. Gerak joran miliknya tibatiba melengkung disertai bunyi ril yang melengking.

Kejadian triple strike
Lengkungan dan suara putaran ril tiba- tiba bertambah besar saat Yuri memutar gagang ril untuk menggulung benang. Rasa heran menghampiri, sebab sedari awal ia merasakan bahwa ikan yang menyambar hanyalah Kurisi berukuran kecil. Di sela waktu Yuri sedang berjibaku dengan ikan, Slamet yang juga melakukan jigging ikut strike.

Joran Maguro Prototype Kingviper 3 yang digunakan Slamet menciptakan sudut lengkung ekstrim sebagai tanda ada perlawanan oleh ikan berukuran besar. Di saat Yuri belum selesai menaklukkan perlawanan ikan serta Slamet yang mendapatkan sambaran dengan tenaga ikan besar, Sumaryono atau yang akrab disapa Kang Ito pun menyusul keduanya setelah ia merasakan umpannya digigit ikan dari dalam laut. Triple strike terjadi! Dengan seketika Ade langsung mengambil kamera guna mengabadikan kejadian unik ini. Semangat ketiganya dalam menarik ikan hingga ke permukaan air membuat situasi di atas kapal semakin ramai. Yuri yang sejak awal berjibaku dengan ikan belum juga mampu menaklukkan ikan.

Sementara Slamet akhirnya terlebih dahulu mendapatkan ikan yang sudah terlihat bayangannya di dalam air. Belum sempat naik ke atas kapal, ternyata Tuna Gigi Anjing (Dogtooth Tuna) yang didapatkan Slamet itu disambar ikan lebih besar sehingga membuat ikan miliknya itu hanya tersisa bagian kepalanya saja. Padahal ikan sudah berjarak sekitar 5 depa dari kapal. Namun apa daya, sepertinya belum rezeki milik Slamet.

Yuri dan Kang Ito masih konsentrasi menyelesaikan fight-nya. Keringat dari sekujur tubuh ditambah tenaga penuh yang keluar membuat keduanya cukup kelelahan. Kang Ito menyusul Slamet menaklukkan perlawanan ikan. Sorak- sorai terjadi setelah Kang Ito sukses mendapatkan Dogtooth dengan bobot sekitar 15 Kg dan dinaikkan ke atas kapal. Tentu semangat ini menjadi motivasi bagi Yuri supaya bisa menaikkan ikan yang sejak tadi melakukan perlawanan tiada henti.

Slamet

Seperti yang disebutkan tadi bahwa Yuri merasakan tarikan besar dari yang sebelumnya hanya dirasakan sebagai perlawanan ikan kecil saat ia strike. Dugaan awal pun melesat, rupanya Kurisi kecil yang mulanya Yuri dapatkan kembali disambar oleh Dogtooth besar tepat hingga metal jig ikut dilumat. Kejadian unik ini memang menarik perhatian, bagaimana bisa strike ikan kecil namun dimakan lagi oleh ikan yang lebih besar. Yuri merasakannya. Hingga sampai di permukaan air, Dogtooth yang memangsa perolehan Yuri tersebut memuntahkan ikan Kurisi kecil tadi yang rupanya masih bertahan hidup dan berenang kembali ke laut. Sontaki kejadian ini membuat seluruh pemancing di atas kapal tertawa terbahak-bahak. Usai ditimbang, Tuna yang struktur giginya mirip dengan anjing itu ternyata berbobot sekitar 21 Kilogram. Kurisi kecil tadi menghantarkan Dogtooth besar ke atas kapal.

Jigging kembali dilakukan. Kang Ito yang sejak tadi melakukan gerakan ‘memompa’ metal jig rupanya kembali merasakan strike. Dengan tenaga tersisa ia coba menaklukkan perlawanan hingga keseimbangannya sedikit terganggu ditambah alunan ombak tak juga kunjung mereda. Seekor Kurisi Cablak pun naik. Giliran Ade yang sejak tadi meramaikan jigging, pemancing dari Jakarta ini juga berhasil mendapatkan beberapa spesies ikan seperti Dogtooth Tuna, Kuwe Mata Belo (Kuwe Lilin), Barracouta serta Barakuda. Pertarungan pada malam hari diawali oleh Ade dan Tole dimulai dari teknik jigging dan dasaran yang masih mereka gunakan untuk ‘menggoda’ ikan.

Duet keduanya sukses mendapatkan kembali Dogtooth dengan bobot sekitar 13 Kilogram. Bukan hanya itu, dua ekor ikan predator Giant Trevally pun sukses mereka dapatkan hingga melengkapi perolehan tim pada trip di perairan Sumbawa ini. Keduanya ikan tersebut masing-masing berbobot 7 dan 10 Kilogram. Hingga menjelang pagi, angin tidak juga mengendorkan hembusannya hingga menusuk pori-pori tubuh dan menembus tulang. Belum lagi alun ombak di tengah laut tidak hentinya menerpa lambung kapal, menggoyangkan semua yang dilaluinya.

Sorot mentari pagi dari ufuk Timur membelah permukaan laut sepanjang garis cakrawala. Minggu pagi kala itu terasa hangat memasuki pukul 07:00 WITA. Pertarungan dengan ikan di perairan Sumbawa pun diakhiri dan kapal segera kembali menuju dermaga Jempol. Namun sial rupanya cuaca belum juga kondusif sehingga membuat kapal mau tak mau menerjang ganas ombak. Setibanya di dermaga Jempol, seluruh penumpang kebasahan karena sebagian badan kapal kemasukan air. Ade (SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *