Kala itu dari Tubiran Pantai Pulau Tikus, seekor kuwe sirip biru (bluefin giant trevally) terangkat ke permukaan. Ril menderit keras dibarengi aksi lengkungan joran menahan perlawanan ikan, sedang berusaha berjibaku tiba-tiba suara deritan terhenti hingga benang pun kendur. Rupanya ikan menyerah lebih cepat dan terbawa alun ombak mendekati kami.

Pulau Tikus merupakan salah satu pulau yang terletak di sebelah barat pesisir Provinsi Bengkulu. Seperti pulau-pulau perawan lainnya, panorama alam dan perairan di sekitar pulau Tikus masih terjaga kelestariannya. Permukaan air laut ibarat cermin perantara untuk menikmati kejernihan bawah laut. Sehingga pulau ini bak magnet bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.

Bahwa wisata di pulau Tikus tidak hanya sekedar menikmati pemandangan alam untuk menyegarkan jiwa. Di balik itu, keragaman hayati bawah air senantiasa menghadirkan keseimbangan rantai makanan bagi fauna. Ya, terumbu karang adalah kunci cadangan makanan bagi ikan-ikan penghuni karang.

Jajaran tubir dasar laut menjadi lokasi mancing terbaik. Dimana batas vegetasi antara laut dangkal dan dalam memang kerap dihuni oleh predator-predator air asin. Pulau Tikus menghadirkan itu, kontur dasar laut dalam yang berdekatan dengan bibir pantai bak surga yang hadirkan banyak cerita bagi para pegiat mancing.

Tiba di Bengkulu
Kelip lampu Kota Bengkulu pada malam hari tergambar jelas dari udara sebelum kami mendarat di Bandara Fatmawati. Beberapa rekan pemancing Bengkulu pun rupanya sudah siap menyambut kedatangan kami. Makan malam jadi awal perbincangan, bertukar pengalaman seputar informasi memancing dan merencanakan spot yang akan didatangi esok hari.

Cuaca cerah serta debur ombak Samudera Hindia menaungi perjalanan kami menuju Pulau Kucing. Untuk menyeberangi lautan, kami menggunakan jasa jukung yang dipesan dari bibir Pantai Panjang. Pulau Kucing hanya berjarak sekitar 10 mil laut dari Kota Bengkulu atau membutuhkan 1 jam perjalanan.

Dalam rasa heran saya bertanya kepada Arif, salah seorang pemancing asal Bengkulu yang memandu kami, “Bro, pulaunya dimana?” “Tuh di dalam air,” jelas Arif sambil menunjuk ke area daratan. Pertanyaan tadi terlontar ketika saya melihat sebuah pulau seperti tenggelam oleh pasang yang rupanya adalah Pulau Kucing.

Pengikisan tanah oleh air laut yang berlangsung sejak lama menyebabkan sebagian daratan pulau-pulau di barat Bengkulu terbenam. Belum lagi naiknya permukaan air laut karena pemanasan global setiap tahunnya memperparah keadaan di sana.

Pada kesempatan kali ini, kami berfokus menggunakan metode mancing casting ultralight. Metode ini berbeda dengan metode mancing/casting lainnya, terutama dari ukuran peralatan yang digunakan. Target ikan kecil menjadi fokus utama dari ultralight dengan pengaturan piranti joran ukuran maksimal 6 lbs dan panjang 180 cm.

Tackle ultra light
Ril ukuran 500-1000 (spinnig) atau 50-100 (baitcasting) menjadi pasangannya yang diisi oleh benang PE/Mono dengan diameter 0.08 mm 6-8 lbs. Penggunaan leader bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan target ikan yang akan dipancing, biasanya berukuran 2 kali lipat kapasitas benang utama. Sementara umpan (lure) usahakan menggunakan yang beratnya 7.5 gram.

Ya, beberapa tahun belakangan ini metode mancing ultralight memang sedang digandrungi oleh berbagai kalangan dunia pemancingan Indonesia. Alasan utamanya tidak lain sensasi saat menaklukkan perlawanan ikan menggunakan piranti kelas ringan, apalagi jika target ikan melebihi kapasitas piranti.

Sammy Huang

Sammy Huang mengawali cast ke titik potensial setibanya di Pulau Kucing. Namun dewi fortuna belum berpihak saat strike, ikan beruntung bisa melepaskan diri hingga umpan terputus, lalu hilang. Sementara Anton dan Arief Bengkulu sudah ngoyor terlebih dahulu. Disaat saya mengikat leader, Anton mendapat sambaran dan strike. Kerapu ukuran sedang cukup membuat rekan-rekannya panas dan termotivasi agar segera strike seperti dia. Joran Maguro ottoman ukuran 4-8 lbs yang dipasangkan dengan ril kelas 1000 jadi senjata selanjutnya.

Lure minnow Izanami pun dilempar menjauh dan kemudian ditarik kembali serupa gerakan ikan kecil yang panik. Usaha Sammy membuahkan hasil setelah seekor Kakap Amrik (ikan tambak) melahap lure-nya tadi sampai targetnya itu sukses diamankan. Dari kejauhan Arief Bengkulu dan Anton juga beberapa kali strike beraneka ragam ikan Kakap Amrik, Kerapu Lodi, Bluefin GT, dll. Hasil kami trip di hari pertama bertambah usai saya dan Arief Julianto (Maguro) menaikkan Tanda-tanda, Lencam dan Kerapu.

Petualangan Petualangan berlanjut keesokan harinya menuju lokasi lebih menjauh di Pulau Tikus. Spot tubiran pantai yang menjadi batas dasar laut dangkal dan dalam jadi lokasi idaman kami. Setelah bermalam di daratan Bengkulu, pagi harinya pukul 06:00 WIB kami langsung menuju Pulau Tikus menggunakan kapal milik kapten Yudhi.

Pukul 09:00 WIB tibalah kami di Pulau Tikus dengan semangat yang terjunjung tinggi. Arief Julianto sebagai perwakilan dari Maguro membuat sebuah game fishing berhadiah, dimana spesies Bluefin Giant Trevally (GT) menjadi targetnya. Tentu langkah ini kian menambah euforia para pemancing dan Kang Tatang, pemancing asal Bengkulu menjadi pemancing pertama yang sukses mendapatkan Bluefin GT.

Elan dari tempat berbeda rupanya mendapatkan sambaran yang ia kira berasal dari sambaran spesies GT. Joran Majorcraft Nextino 1-3 lbs miliknya melengkung tajam dibarengi bunyi derit ril karena menahan perlawanan ikan. Sedang asyik fight, tiba-tiba benangnya mengendur sendiri. Kami mengira benang putus dan ikan berhasil memenangkan fight, ternyata seekor bluefin GT menyerah lebih cepat mengayun-ayun terseret ombak mendekati kami.

Mancing menggunakan ultralight di tepi tubiran laut memang menghadirkan sensasi yang memuaskan. Arief Julianto pun merasakannya, ketika dua ekor Kerapu berebut memakan umpan buatan yang ia lempar ke sebuah titik. Sudah beberapa ekor ikan penghuni karang sukses dinaikkan oleh masing-masing dari kami. Matahari kian terik menyinari perairan barat Bengkulu dan kegiatan mancing pun dihentikan. Sesuai kesepakatan tadi, pemenang game fishing berhak mendapatkan perlengkapan mancing dari Maguro sebagai bentuk apresasi.

Selepas itu kami bergegas untuk kembali menuju Bengkulu, namun rupanya kendala hadir usai kegiatan mancing berakhir. Belum jauh kapal meninggalkan Pulau Tikus rupanya terjadi kebocoran pada bagian mesin kapal. Usaha kapten kapal memperbaiki bagian yang rusak pun tidak membuahkan hasil dan mengharuskan kami untuk kembali semalam menginap. Tentu kondisi ini membuat jadwal pulang jadi berantakan. Sammy Huang (SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *